Imogiri sekilas Video
Makam Raja-raja IMOGIRI
Makam Imogiri
terletak di sebelah selatan Jogja - kurang lebih 45 menit ke arah
selatan perjalanan dengan menggunakan kendaraan sendiri, atau bisa
juga ditempuh dengan minibus dari Jogja langsung sampai didepan
pintu masuk makam. Makam ini terletak diatas perbukitan yang juga
masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. Memasuki tempat parkir
untuk menuju pemakaman kita akan disambut oleh para Pemandu Wisata
yang sudah siap mengantarkan kita.

Minuman khas disini berupa Wedang Uwoh, wedang jahe dengan campuran
gula jawa, daun cengkeh tampak memberikan rasa yang khas rasa
Imogiri – Jogja, rasanya segar untuk menghilangkan kepenatan badan
kita.

Setelah pintu masuk disebelah kiri ada bangunan masjid yang cukup
megah. Masjid ini biasa digunakan untuk mensholatkan jenazah para
Raja sebelum dibawa keatas bukit untuk dimakamkan.

Ketika melihat keatas sempat terbayang pegalnya kaki ini yang akan
menaiki tangga sejumlah 454 tangga. Tangga-tangga tersebut berukuran
lebar, kurang lebih 4 meter dan dilapisi semen beton disertai tiupan
angin sore yang semilir menjadi tak terasa menaiki tangga tersebut.
Setelah melewati 454 tangga kemudian kita baru masuk pintu ke II, di
pintu II ini ada 3 bangsal; yang pertama adalah Bangsal Sapit
Urang-bangsal yang dipergunakan oleh para abdi dalem keraton Jogja;
yang kedua adalah Bangsal Hamengkubuwono untuk para Bangsawan Jogja;
dan yang ketiga adalah Bangsal Pakubuwono untuk para Bangsawan dari
Keraton Solo. Seperti kita ketahui bahwasannya pada masa Amangkurat
V ( 1677 ) Mataram mengalami perpecahan dan akhirnya dibuatlah
Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram jadi II, yaitu Kasunanan
Pakubuwono ( Solo ) dan Kasunanan Hamengkubuwono ( Jogja ).

Memasuki tempat pemakaman masih dibagi lagi menjadi tiga bagian,
makam utama; yaitu makam Sri Paduka Sultan Agung Hanyokrokusumo,
Amangkurat II, Amangkurat III beserta masing-masing satu
permaisurinya. Sayap kiri terdiri dari; Pakubuwono I, Amangkurat
Jawi dan Pakubuwono III. Sayap kanan terdiri dari: Ratu-ratu Solo,
Pakubuwono III beserta selir dan permaisurinya. Namanya makam Raja,
cerita-cerita seputar makam yang berbau mistis juga banyak kita
dengar.

Cerita mengenai kesaktian raja-raja jaman dahulu sampai tentang
cerita kalau mengenai Ratu Laut Selatan. Ceritanya seperti ini,
Syahdan waktu itu Panembahan Senopati ( pendiri Mataram ) bertapa di
Laut Selatan seluruh laut selatan bergetar karena merasakan hawa
sakti dari Panembahan. kemudian keluarlah Ratu Laut Selatan menemui
Panembahan Senopati agar menghentikan pertapaannya. Karena itu, Sang
ratu akan membantu kekuasaan Sang Panembahan di Tanah Jawa, dan
permintaan Sang Ratu kalau seluruh raja-raja Mataram akan dijadikan
suaminya, boleh percaya boleh tidak.

Didepan makam Sultan Agung, ada makam Panembahan Katedan yang
merupakan penasehat spiritual dari Sultan Agung tersebut. Memasuki
makam Sultan Agung juga kita setelah masuk bangunan utama harus
masuk lagi kedalam bangunan kecil yang pintunya pendek sehingga
harus jongkok untuk bisa memasukinya. Didalamnya cukup sempit, hanya
melingkar makam beliau tetapi walau tertutup udara cukup sejuk,
padahal diluar matahari sedang terik-teriknya.
Untuk memasuki kompleks makam, pengunjung diharuskan melepas alas kaki dan menggunakan pakaian surjan bagi para pria dan menggunakan kemben bagi wanitanya, bila anda tidak membawa bisa menyewa ditempat tersebut.
PENDIRIAN MAKAM IMOGIRI
Pendirian Makam Imogiri merupakan puncak obsesi Sultan Agung sebagai
raja terbesar Dinasti Mataram. Semasa hidupnya, Sultan Agung
memiliki perhatian yang sangat besar pada kehidupan akhirat. Hal
tersebut sangatlah lumrah, mengingat kehidupannya sebagai penakluk
yang sangat akrab dengan kematian yang dialami dalam berbagai
peperangan.
Dalam proses invasinya ke berbagai wilayah, tercatat Sultan Agung
mengalami kegagalan ketika menyerang VOC di Batavia. Kekalahan
tersebut menyebabkan sebagian besar prajuritnya tewas mengenaskan.
Mayat para prajurit yang bergelimpangan menyebabkan hati Sultan
Agung terluka melihat betapa sia-sianya sebuah kematian. Kebesaran
dan kejayaan Mataram harus dibayar mahal dengan tetes darah dan
nyawa.
Kejadian itu makin memperdalam perenungan akan arti kematian baginya.
Sebagai raja, ia ingin jasadnya dikebumikan secara layak dan tetap
dihormati oleh keturunan dan rakyat Mataram. Sultan Agung mempunyai
kebiasaan berziarah ke makam “orang suci” sebagai bagian dari
kehidupan spiritualnya. Setelah wafat kelak, ia merasa makamnya
patut menjadi tempat ziarah yang bertuah seperti pada makam “orang-orang
suci” yang sering dia datangi.
Bahkan Sultan Agung pernah memiliki niat untuk dimakamkan di Mekah,
selayaknya “orang-orang suci”. Akan tetapi keinginannya tersebut
ditolak oleh seorang imam di Mekah yang bernama Imam Sipingi. Konon
pada diri Sultan Agung melekat mitos yang menggambarkan dirinya
sebagai setengah jin dan setengah manusia. Penolakan tersebut
menyebabkan kekecewaan mendalam pada diri Sang Penakluk.
Konon seorang wali yang sangat terkenal di Pulau Jawa, yaitu Sunan
Kalijaga melihat kekecewaan Sang Raja. Dengan bijaksana, ia
menyarankan Sultan Agung sebagai raja besar dan pepunden rakyat,
akan lebih baik jika jasadnya kelak beristirahat tidak jauh dari
rakyat Mataram.
Keinginan Sultan Agung supaya makamnya kelak senantiasa diziarahi
selayaknya makam “orang suci”, semakin mendorong dirinya untuk mulai
memikirkan membangun makam, walau usianya belum lanjut. Selain itu,
ia tidak ingin dimakamkan di areal istana Kotagede bersama para
leluhurnya.
|
Sungguh kenyataan tersebut layak dipertanyakan, mengapa
Sultan Agung yang merupakan penerus tahta ke-3 Kerajaan
Mataram Islam merencanakan membangun makam di tempat lain
dan tidak ingin dikebumikan di makam keluarga raja yang
sudah ada. |
Ada kemungkinan keinginan Sultan Agung tersebut, didorong oleh
hasrat untuk mengokohkan dirinya sebagai raja terbesar dan bukan
hanya sebagai penerus tahta. Perjalanan sejarah mencatat bahwa
raja-raja penerusnya mendukung fakta kebesaran Sang Raja. Setelah
Sultan Agung, semua raja-raja Dinasti Mataram dimakamkan di Makam
Imogiri, bukan di Makam Kotagede. Tercatat hanya seorang raja
penerus yaitu Sultan HB II (1828) yang dimakamkan di Kotagede karena
situasi tidak memungkinkan akibat Perang Diponegoro (1825-1830).
Dalam mewujudkan ambisi membangun makam, Sultan Agung tidak serta
merta menentukan lokasi tanah yang diinginkan. Pemahaman spiritual
dan filosofi serta adat jawa menjadi bagian penting dalam penentuan
tersebut. Sebagai sosok raja besar, tidak disangsikan kemampuannya
dalam merambah tanah kekuasaan yang semakin luas. Akan tetapi, untuk
menentukan tanah bagi makamnya kelak perlu banyak syarat yang
bersifat supranatural.
Melalui berbagai “lelaku” dan pertimbangan, akhirnya ditentukan
lokasi tanah makam di daerah dataran tinggi Girilaya. Lokasi
tersebut dianggap sangat cocok untuk dijadikan tempat pemakaman.
Tempat yang tinggi pada budaya Hindu, dipercaya sebagai tempat
sakral. Hal itu sesuai dengan kepercayaan yang masih melekat pada
proses peradaban masa itu.
Saat proses pembangunan makam sedang berlangsung, Sultan Agung pergi
memimpin pasukan Mataram ke Jawa Timur. Kisah pembangunan makam pun
bergulir ketika salah seorang paman Sang Raja yang bernama Gusti
Pangeran Juminah tertarik dengan “proyek” besar itu. Sebagai kerabat
raja, ia merasa kelak patut dikebumikan di areal makam yang sedang
dibangun tersebut. Maka sekembali Sultan Agung ke istana, tanpa
berpikir panjang ia mengutarakan keinginannya.
Sultan Agung merasa terlangkahi, ia tidak berkenan atas maksud
pamannya. Ia adalah raja, dan permintaan Sang Paman dianggap tidak
pantas, meskipun sebagai kerabat tua. Hatinya kesal dan tersinggung
hingga dengan suara lantang ia mempersilahkan tanah pemakaman yang
sedang dibangun tersebut sebagai tanah makam bagi pamannya.
Perkataan Sultan seperti tulah. Tak lama kemudian Sang Paman
pun wafat dan disemayamkan di Makam Girilaya. Peristiwa tersebut
membuat Sultan Agung berpikir untuk mencari tempat lain sebagai “tempat
peristirahatan”.
Untuk mencapai keinginan tersebut, ia mulai menjalankan “lelaku”
sebagaimana layaknya raja Jawa. Tirakat demi tirakat dijalani untuk
memperoleh pulung yang diharapkan. Setelah melakukan perenungan,
hatinya pun semakin mantap untuk mencari tanah pengganti Girilaya.
Suatu hari ia memanggil abdinya yang bernama Kyai Singaranu untuk
menemani dan membawakan panah baginya.
Tiba di suatu tempat, Sultan Agung dengan mantap membidikkan panah
untuk menentukan tanah yang akan dibangun sebagai pemakamannya. Anak
panah melesat ke arah selatan dan jatuh di atas puncak Pegunungan
Merak, sebelah barat daya Girilaya. Dengan keyakinan spiritualnya,
Sultan Agung menentukan tempat jatuhnya anak panah sebagai areal
yang pantas untuk pemakaman dirinya dan keturunannya kelak.
Disinilah Makam Imogiri didirikan, letaknya yang tinggi menjadikan
makam yang dibangun menjadi tempat sakral.
ARSITEKTUR MAKAM IMOGIRI
Makam Imogiri terletak di Desa Pajimatan, saat ini termasuk dalam
Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Makam tersebut berada di atas
sebuah bukit dengan ketinggian 35-100 meter di atas permukaan laut.
Letaknya yang tinggi sesuai dengan filosofi Hindu, dipercaya sebagai
tempat suci, jalan menuju nirwana. Di tempat tersebut, para dewa
bersemayam. Oleh karena itu, dipandang sangat layak sebagai tempat
pemakaman.
Untuk rencana pembangunan makamnya, Sultan Agung menunjuk seorang
adipati dari Jepara bernama Tumenggung Tjitrokoesoemo, untuk
mengepalai pelaksanaan “proyek” tersebut. Pembangunan kompleks makam
dimulai tahun 1630 dan dibangun secara berkelanjutan oleh raja-raja
penerusnya.
Sultan Agung bertahta selama 32 tahun dan wafat pada bulan Februari
1645, atau pada hari Jum’at Legi, Sapar Jimakir 1576. Sesuai
keinginan semasa hidupnya, jasad Sang Raja besar itu dihantar oleh
keluarga dan rakyat Mataram. Meniti tangga demi tangga menuju tempat
peristirahatan terakhir yaitu Makam Imogiri, mahakarya yang dibangun
dari suatu perenungan yang dalam. Tempat makamnya terletak di
sebelah utara, di tempat tertinggi dari seluruh bangunan Makam
Imogiri, disebut Kedhaton Kasultanagungan.
Ambisi Sultan Agung pun tercapai, ia menjadi raja pertama yang
dimakamkan di Imogiri. Dengan demikian, ia seolah menjadi raja
pertama Dinasti Mataram, karena Wangsa Mataram selanjutnya mengikuti
dirinya dimakamkan di Imogiri bukan di Kotagede.
|
Arsitektur makam Sultan Agung masih sangat “kental”
dengan pengaruh budaya Hindu. |
Tentunya bukan hal aneh, karena budaya yang berkembang pada saat itu
khususnya di Pulau Jawa, masih dipengaruhi oleh budaya Hindu yang
telah hidup selama berabad-abad mendahului budaya Islam.
Pengaruh budaya Hindu terlihat pada ornamen yang menghiasi gapura,
rana (kelir) dan tembok (beteng) sekeliling makam.
Ornamen tersebut menjadikan Kedhaton Kasultanagungan tampak sarat
dengan keindahan budaya yang berkembang saat itu.
Untuk mencapai lokasi Kedhaton Kasultanagungan harus melewati jalan
berundak dan memasuki tiga gapura yang dihias berbagai macam flora.
Salah satunya berupa motif sulur-suluran yang merupakan bentuk motif
stirilisasi.
Setiap memasuki gapura akan dijumpai rana sebagai sekat, berbentuk
pagar tembok bata setinggi 125 cm dan panjang 250 cm, dihias ukiran
corak geometris dan flora. Rana berfungsi untuk menghalangi
pandangan pengunjung agar tidak dapat melihat secara langsung bagian
dalam makam. Secara simbolik berfungsi sebagai penolak
masuknya roh jahat.
Makam Sultan Agung dinaungi bangunan berbentuk joglo seperti pada
umumnya bangunan Jawa, beratap tumpang yang puncaknya dihias mahkota
berbentuk lidah api. Bangunan tersebut disangga tiang-tiang kayu
yang dihias ukiran seperti kaligrafi.
Lantai bangunan makam terbuat dari batu hitam setinggi 80 cm. Pada
bagian inti bangunan terletak nisan Sultan Agung yang juga terbuat
dari batu hitam. Sekeliling nisan terdapat dinding dari kayu wungle
yang merupakan cinderamata persembahan 300 pengorap dari Palembang
untuk menghormati keberadaan dan kebesaran Sultan Agung. Di bagian
timur dinding makam terdapat pintu masuk kecil setinggi 1 meter.
Nisan Sultan Agung dihias dengan kain kelambu seperti layaknya
peraduan raja. Sebagai tempat yang dikeramatkan, kain kelambu pun
merupakan bagian yang disakralkan dan diganti sewindu sekali dengan
ritual adat tertentu. Untuk penerangan dinyalakan beberapa lilin di
sisi kiri dan kanan nisan. Sementara itu halaman di sekeliling makam
terhampar pasir. Konon pasir tersebut diambil dari Laut Selatan,
tempat bersemayamnya Gusti Kanjeng Ratu Kidul yang dipercaya sebagai
pelindung raja-raja Mataram. Selain makam Sultan Agung, di Kedhaton
Kasultanagungan juga disemayamkan GKR Batang (sang permaisuri) dan
Sultan Amangkurat II. Secara keseluruhan seni hias makam merupakan
perpaduan seni dari budaya Hindu dan Islam.
|
Diantara makam-makam lain yang ada di kompleks Makam Imogiri,
Kedhaton Kasultanagungan dianggap paling sakral dan banyak
dituju peziarah. |
Ada hal lain yang bersifat mistis memasuki ruang makam Sultan Agung
yaitu semerbak bau wangi yang menebar dari dalam makam. Dipercaya
bau harum itu berasal dari lantai makam, yaitu di sisi kiri atau
barat nisan Sultan Agung. Konon bagian yang berbau harum tersebut
merupakan tanah yang dilemparkan Sultan Agung dari Mekkah. Ada
kepercayaan bahwa jasad Sultan Agung tidak dimakamkan tepat di bawah
nisan seperti pada umumnya jasad lain, namun di bawah lantai yang
menyebarkan bau harum tersebut. Mitos tersebut tersebar sehingga
mengecoh niat jahat orang-orang yang hendak membongkar makam untuk
tujuan-tujuan tertentu.
Nisan Sultan Agung dijaga oleh dua orang juru kunci, yaitu juru
kunci dari Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Dari
Kasunanan bertugas menjaga bagian yang menyebarkan bau wangi,
sedangkan dari Kasultanan bertugas menjaga nisan.
Dinasti Mataram mengalami perpecahan setelah adanya Perjanjian
Giyanti tahun 1755. Mataram terbagi menjadi Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dengan demikian,
kompleks Makam Imogiri pun mengalami perubahan menjadi Kedhaton
Kasultanagungan yang berada di puncak bukit, Kedhaton
Hamengkubuwanan di sisi timur sebagai makam raja-raja
Yogyakarta, dan Kedhaton Pakubuwanan terletak di sisi barat
sebagai makam raja-raja Surakarta.
Secara keseluruhan, untuk mencapai Makam Imogiri harus menaiki
jajaran anak tangga yang menjulang tinggi. Perhitungan pembagian
anak tangga dengan menyesuaikan kontur tanah perbukitan menunjukkan
ilmu arsitektur yang tinggi. Untuk mencapai puncak batas sakral yang
disebut Halaman Supit Urang, terdapat anak tangga yang berjumlah 399
buah, dihitung dari Plataran masjid yang terletak di bagian bawah
makam.
Pada halaman tersebut terdapat dua bangsal sebagai tempat para abdi
penjaga makam. Bangsal sebelah kiri milik Kasultanan Ngayogyakarta
dan bangsal sebelah kanan milik Kasunanan Surakarta. Posisi bangsal
tersebut berlawanan dengan kedhaton masing-masing. Posisi silang ini
dimaksudkan supaya para juru kunci kedua kraton tersebut saling
menjaga. Selain sebagai tempat abdi dan juru kunci, bangsal beratap
limasan ini juga digunakan untuk menyiapkan berbagai upacara.
Dari keseluruhan anak tangga yang berjumlah 399 terbagi dalam empat
tahapan. Setiap tahapan terdiri dari sejumlah anak tangga yang
diakhiri dengan anak tangga luas berbentuk plataran, berfungsi
sebagai jeda atau rehat sebelum melanjutkan ke anak tangga
berikutnya. Tahapan anak tangga yang paling inti dijumpai setelah
melewati 337 anak tangga, berakhir dengan plataran yang merupakan
persimpangan tiga.
Arah kiri atau barat menuju komplek makam raja-raja Kasunanan
Surakarta, ke kanan atau ke timur menuju komplek makam raja-raja
Yogyakarta, dan lurus meniti ke anak tangga berikutnya yang
berjumlah 103 adalah Kedhaton Kasultanagungan.
DETAIL RAGAM HIAS ARSITEKTUR MAKAM IMOGIRI
Pada umumnya atap bangunan makam yang menaungi nisan raja-raja
Mataram berbentuk tumpang. Bentuk atap ini juga disebut dengan atap
bertingkat. Di puncak atap diberi hiasan berbentuk lidah api terbuat
dari logam. Secara filosofi, bentuk atap tersebut menyimbolkan
keabdian dan Ke-Esaan Sang Pencipta.
Memasuki kompleks pemakaman terdapat beberapa gapura yang sarat akan
pengaruh budaya Hindu. Ada dua bentuk gapura yaitu, gapura bentar
yang berbentuk seperti candi terbelah dua, tidak beratap, dan tanpa
pintu. Gapura yang kedua adalah gapura paduraksa yaitu gapura
beratap dan dilengkapi dengan pintu. Gapura tersebut bisa dijumpai
pada beberapa pintu gerbang yang menuju ke semua kedhaton. Memasuki
gapura paduraksa berarti memasuki tempat yang dianggap suci,
sehingga tidak diperbolehkan masuk tanpa mengenakan pakaian yang
telah ditentukan adat dan tidak diperkenankan beralas kaki.
Secara keseluruhan bangunan Imogiri bersifat konstruksional,
yaitu setiap bagian bangunan saling melengkapi satu dengan yang
lain. Selain konstruksional, setiap bangunan makam memiliki hiasan
yang bersifat dekoratif dan simbolis. Bentuk-bentuk hiasan tersebut
bisa dilihat pada setiap pintu, berupa motif flora, geometris,
maupun lung-lungan.
Motif lung-lungan merupakan stirilisasi ragam hiasan tumbuhan
sebagai bentuk perkembangan seni pada budaya Islam. Secara
simbolisasi bisa dilihat dari ukiran jenis flora yang umumnya
mempunyai arti dan maksud tersendiri. Misal terlihat pada
stirilisasi teratai, daun kluwih, bunga melati, daun markisah, dan
buah keben yang menyimbolkan ketentraman.
Pada motif geometris, sebagian besar digambarkan dalam bentuk belah
ketupat yang disebut wajikan. Motif ini banyak dijumpai sebagai
hiasan pada pintu. Sementara itu, motif geometris pada tiang
digunakan untuk mengurangi atau menambah kesan tinggi. Ragam hias
flora juga dijumpai pada ukiran balok langit-langit.
Sampai saat ini, bangunan makam yang paling indah di kompleks Makam
Imogiri, adalah makam Sunan Paku Buwono X. Ia merupakan raja
terbesar dari Kasunanan Surakarta. Sang Raja wafat pada 1 Sura,
tahun Je 1870 atau 20 Februari 1939 pukul 7.30 pagi, dalam usia 73
tahun. Kebesaran Sunan PB X bisa dilihat dari semakin megahnya
Kraton Surakarta pada jaman pemerintahannya. Demikian juga makam
Sunan PB X yang dirancang semasa hidupnya untuk menjadi makam
terindah diantara makam raja-raja di Imogiri. Bahkan semasa hidupnya
ia menyempatkan diri untuk melihat proses pembangunan makamnya.
Memasuki kompleks makam Sunan Paku Buwono X, terdapat gapura
paduraksa yang sangat indah berbentuk menyerupai “ratna” atau puncak
candi Hindu. Pengaruh Hindu juga terlihat pada bagian atas nisan,
yang disebut maejan yang berbentuk menyerupai kuluk atau
mahkota. Kemegahan Kraton Surakarta juga dihadirkan dalam makam
Sunan PB X. Lantai sekeliling makam ditutup dengan marmer yang
didatangkan dari Italia.
PROSESI PEMAKAMAN
Apabila seorang raja Mataram mangkat, maka juru kunci Makam Imogiri
seger diberi tahu oleh pihak kraton. Dengan segera mereka melakukan
persiapan pemakaman, termasuk mempersiapkan liang lahat yang
biasanya telah ditentukan oleh raja yang bersangkutan jauh hari
sebelumnya.
|
Prosesi pemakaman raja-raja Dinasti Mataram merupakan
upacara agung di dalam kraton. Kemegahan prosesi pemakaman
seorang raja seolah sama besarnya ketika ia naik tahta. |
Prosesi upacara dimulai dengan jasad raja yang disemayamkan di
masjid kraton untuk disholatkan para ulama dan kerabat.
Misalnya ketika Sunan PB X dari Kasunanan Surakarta mangkat tanggal
20 Februari 1939. Segala perlengkapan untuk perawatan jenazah segera
disiapkan. Jenazahnya dimandikan dengan dipangku oleh lima orang
bangsawan, yaitu tiga orang putra dan dua orang cucu dari Sunan Paku
Buwono X. Salah satu cucu almarhum adalah KGPAA Suryadilogo atau
Paku Alam VIII.
Jenazah kemudian disemayamkan di Masjid Pudalsana untuk disholatkan
oleh para kyai. Setelah prosesi di masjid selesai, jenazah dipanggul
dengan dinaungi payung kerajaan diikuti iringan para kerabat,
pejabat, dan abdi dalem menuju nDalem Langenkatong.
Benda-benda yang pernah dikenakan Sunan Paku Buwono X juga disiapkan
di nDalem Langenkatong, diantaranya adalah bintang-bintang jasa,
busana kebesaran, dan dampar yang diletakkan dalam tandu (joli).
Para kerabat, pejabat, dan abdi dalem mengenakan baju dan ikat
kepala warna hitam. Mereka menunggu di nDalem Langenkatong.
Sementara itu secara terpisah, permaisuri, para selir dan putri
menunggu di Panepen.
Pada hari pemakaman tanggal 22 Februari 1939, diadakan upacara
pemberangkatan jenazah secara adat Mataram menuju peristirahatan
terakhir. Menjelang upacara pemberangkatan, abdi dalem prajurit
Tamtama dengan pakaian Garebegan berbaris di halaman timur. Prajurit
Canguk yang bertugas membunyikan meriam bersiap di Panggung Songgo
Buwono. Selain itu, para prajurit dari kesatuan-kesatuan lain
bersiap di tempat yang telah ditentukan. Semua putri dan menantu
Sunan mengenakan busana cekak hitam dengan tata rambut berupa gelung
tekuk. Sementara itu, cucu-cicit, kerabat, serta pejabat putra dan
putri hingga pangkat ke bawah mengenakan busana Garebeg.
Jenazah diberangkatkan dengan diiringi gendhing Wilhelmus dan
orkes Sawdama Widi. Upacara dilanjutkan bagi putra-putri dan
cucu-cicit yang belum sunat untuk melakukan brobosan.
Pemberangkatan jenazah dipanggul secara bergantian untuk dinaikkan
ke dalam kereta jenazah yang ditarik 8 ekor kuda di Maderata
Srimanganti.
Peti jenazah raja dimasukkan dalam kereta jenazah meninggalkan
kraton menuju jalan yang telah ditentukan untuk dilewati, sesuai
pakem yang ada. Kereta jenazah juga melewati Istana Mangkunegaran
yang mengadakan upacara penghormatan dengan melantunkan gamelan
Monggang dan Kodok Ngorek. Rute terakhir di kota
Surakarta, membawa kereta jenazah menuju Stasiun Balapan untuk
memindahkan jenazah ke gerbong khusus milik NIS. Sementara itu, 20
gerbong lain disediakan untuk mengangkut para pelayat. Kira-kira jam
11.00 WIB kereta api berangkat menuju Yogyakarta dengan diiringi
salvo kehormatan.
Satu setengah jam kemudian, kereta tiba di Stasiun Tugu. Kereta
berhenti namun peti tidak diturunkan. Selanjutnya, diadakan upacara
penghormatan jenazah. Upacara tersebut dihadiri Sultan Hamengku
Buwono VIII, Gubernur Bijleveld, bangsawan dari Kraton Yogyakarta,
Pakualaman, dan pejabat setempat.
Setelah upacara penghormatan, kereta api kembali bergerak menuju
Kotagede. Tiba di Stasiun Pasar Gede jenazah disambut oleh KGPAA
Mangkunegara VII dan para bangsawan dari Surakarta. Jenazah Sunan PB
X kemudian dipindahkan ke mobil dan dibawa ke Masjid Pasarean
Kotagede untuk disemayamkan semalam.
Esok harinya tanggal 23 Februari 1939, prosesi upacara dilanjutkan
dengan memberangkatkan jenazah ke Imogiri. Setibanya di Imogiri,
jenazah disemayamkan di Masjid Pajimatan untuk disholatkan. Dari
masjid jenazah diusung ke tempat pemakaman yang sudah ditentukan.
Selanjutnya jenazah dimasukkan ke liang lahat dan kembali
disholatkan oleh abdi dalem lurah muadzin Masjid Ageng Surakarta.
Jenazah ditutup dengan taburan bunga, papan kayu, kemudian “diurug”
pasir sampai batas liang, dan ditutup marmer putih sebagai alas batu
nisan.
Prosesi upacara pemakaman jenazah raja Kasunanan Surakarta berbeda
dengan prosesi di Kasultanan Ngayogyakarta. Semisal ketika Sultan
Hamengku Buwono IX wafat pada tanggal 3 Oktober 1988 (waktu
Indonesia) di Washington DC dalam usia 76 tahun. Setibanya di tanah
air, jenazah Sultan HB IX disemayamkan di Kantor Perwakilan Propinsi
DIY, Jalan Prapatan Jakarta. Keesokan harinya jenazah diterbangkan
ke Kraton Kasultanan Yogyakarta. Sebagaimana layaknya seorang raja,
jenazah disemayamkan semalam di Bangsal Kencono untuk memberi
kesempatan pada rakyat ngabekti terakhir pada raja
junjungannya.
Awan kelam menyelimuti Ngayogyakarta Hadiningrat. Rakyat dari
seluruh pelosok berduyun-duyun memenuhi sekitar kraton dan dengan
sabar mengantri untuk mendapat kesempatan memberi penghormatan
terakhir.
Jenazah Sultan Hamengku Buwono IX dibaringkan di dalam peti dengan
bantal kecil sebagai bantal kepala. Di kanan kiri pinggang
diletakkan guling. Bantal guling tersebut dibuat dari kain mori
putih yang berisi daun pandan dan kemuning sebagai simbol tolak bala.
Selain itu, kain kampuh (dodot) Sultan juga disertakan dalam peti.
Konon, kampuh tersebut digunakan Sultan HB IX ketika dinobatkan
sebagai raja pada tahun 1940.
Di dalam peti juga dimasukkan sembilan Gelu yaitu bulatan tanah
sebesar kepalan tangan yang diambil dari Makam Imogiri. Gelu
tersebut diletakkan di ubun-ubun, disamping kanan kiri leher, bahu,
pinggang, lutut. Maksud pemberian gelu pada peti Sultan adalah
menyatukan jenazah Sultan dengan tanah kuburnya.
Keesokan harinya, tanggal 8 Oktober 1988 dilaksanakan prosesi
pemberangkatan jenazah. Sejak pagi pukul 08.30 WIB diperdengarkan
gending Monggang yang disuarakan Gamelan Kyai Guntur Laut. Gending
tersebut hanya dibunyikan pada saat penobatan dan pemakaman raja.
Sebelum jenazah Sultan HB IX diberangkatkan, seorang ampilan
memukul kentongan bambu secara perlahan. Ampilan yang lain
menyapu tanah yang akan dilewati jenazah dengan sapu lidi yang
diikat mori putih, kemudian ampilan lainnya membanting
kendi berisi air ke tanah yang sudah disapu. Tradisi tersebut
dilakukan untuk pemakaman yang dilakukan pada hari Selasa atau Sabtu.
Jenazah diberangkatkan menuju Makam Imogiri dengan menggunakan
kereta Rata Pralaya yang ditarik delapan ekor kuda. Abdi yang
bertugas menebar sawur siap berjalan mendahului kereta. Sebagai
Manggala yuda yang akan memimpin iring-iringan jenazah ditunjuk GBPH
Yudhaningrat. Pasukan pengiring kereta jenazah terdiri dari pasukan
musik yang melagukan Laratangis, diikuti 500 prajurit kraton yang
terbagi dalam delapan bergada yaitu Wirobrojo, Daeng, Jagakarya,
Patangpuluhan, Prawirotama, Nyutra, Ketanggung, dan Mantrijero.
Mereka berjalan kaki sampai batas kota lalu melanjutkan perjalanan
dengan kendaraan truk menuju Makam Imogiri. Sebelum ada kendaraan
bermotor, iring-iringan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Terdapat kepercayaan bahwa jenazah tidak diperbolehkan melewati
Alun-alun Utara. Hal tersebut dikarenakan Alun-alun Utara lebih
dikeramatkan dibanding Alun-alun Selatan. Keyakinan tersebut terkait
dengan letak Alun-alun Utara yang berada di depan Sitihinggil Lor
yang merupakan tempat raja lenggah sinewaka. Oleh karena itu,
jenazah diberangkatkan melalui Magangan, Jalan Tamansari, Alun-alun
Kidul, dan Plengkung Gading. Pada saat melewati Alun-alun Kidul,
iring-iringan jenazah berjalan diantara dua beringin kurung. Tradisi
tersebut mulai dilaksanakan sejak Sultan Hamengku Buwana I. Selama
perjalanan menuju makam, jenazah dipayungi dengan payung warna
kuning emas (songsong jene).
Sesampainya di Imogiri, jenazah Sultan Hamengku Buwono IX
disemayamkan di Masjid Pajimatan untuk disholatkan. Setelah itu,
jenazah diusung oleh abdi dalem Gladak untuk dikebumikan. Mereka
mengenakan baju merah, topi merah, dan kain jumputan warna biru
ceplok putih.
Saat mengusung jenazah, abdi dalem Gladak dibantu oleh prajurit
Koppasus dan Banteng Raiders. Hal ini dikarenakan Sultan HB IX
adalah seorang pejuang dan pernah menjadi Menteri Pertahanan
Keamanan. Sesampainya di areal makam, jenazah dimasukkan ke liang
lahat yang telah disiapkan. Ada perbedaan dalam penguburan Sultan
Hamengku Buwono IX dengan raja-raja sebelumnya, karena liang lahat
ditutup dengan adukan semen dan pasir hingga batas peti. Hal
tersebut dimaksudkan agar makam tidak dibongkar seperti pada makam
Sultan HB VIII. Makam Sultan Hamengku Buwono IX ditandai dengan
nisan kayu yang dipasang di kedua ujung. Terdapat suatu kepercayaan
bahwa para raja dan penerus tahta tidak pernah menghadiri pemakaman
di Imogiri.
TATA CARA BERZIARAH
Pada masa kini, Imogiri telah berkembang menjadi obyek wisata. Semua
orang diperkenankan datang berziarah. Meski demikian, terdapat
peraturan yang menyangkut tata cara ziarah. Bagaimanapun Makam
Imogiri bagi sebagian masyarakat Jawa dan khususnya kerabat kraton
Mataram merupakan tempat keramat.
Tata cara ziarah diatur sesuai pakem adat istiadat budaya Jawa yang
ditentukan sejak jaman Sultan Agung. Peziarah diwajibkan mengenakan
busana khusus ketika memasuki areal pemakaman. Bagi para pria harus
mengenakan surjan, kain batik dengan motif selain parang rusak, dan
blangkon. Para wanita dewasa wajib mengenakan kain dengan kemben
tanpa kebaya, dan rambut disanggul tekuk jika rambut panjang atau
rambut diurai jika rambut pendek. Tidak diperkenankan memakai segala
macam perhiasan. Aturan tersebut hanya berlaku bagi rakyat.
Sementara bagi putri-putri raja diperkenankan memakai kebaya.
Bagi anak laki-laki cukup memakai kain batik dan blangkon. Sementara
anak perempuan sama dengan wanita dewasa, tetapi kain dikenakan
dengan model sabuk wala. Sesuai dengan perkembangan jaman,
pengurus Makam Imogiri menyediakan pakaian yang disediakan bagi para
peziarah. Tempat menyewa dan berganti pakaian disediakan di bangsal
kedaton.
Saat ini Makam Imogiri banyak dikunjungi oleh masyarakat yang datang
dengan berbagai tujuan. Ada yang murni berwisata, namun tak sedikit
yang hendak “ngalap berkah”. Hal tersebut berkaitan dengan
kepercayaan bahwa Makam Imogiri khususnya makam Sultan Agung adalah
makam keramat yang bertuah. Sehingga apabila ada orang yang memiliki
suatu keinginan, ia akan berziarah ke makam tersebut.
Hal itu juga berlaku bagi keluarga kraton. Apabila mereka hendak
menikah atau menduduki suatu jabatan, maka mereka akan datang ke
Imogiri untuk memohon berkah dan restu dari leluhurnya.
Kepercayaan dan fenomena tersebut memberikan suatu bukti bahwa raja
memiliki kedudukan yang sangat tinggi di mata masyarakat Jawa.
Bahkan seperti yang diangankan Sultan Agung, setelah meninggal dunia
pun seorang raja masih dianggap bertuah.
Rupanya apa yang diharapkan Sultan Agung semasa hidupnya dapat
tercapai. Harapan Sultan Agung akan kedekatan dirinya dengan
keluarga, kerabat, rakyat serta nama besarnya yang ingin selalu
dikenang sepeninggalnya, sudah terwujud.
Masjid, Masjid ini terdapat di dalam komplek makam , merupakan
masjid tradisional yang di bangun kira-kira pada masa Sultan Agung .
secara umum bangunanya masih asli hanya pada bagian serambinya saja
yang mengalami perubahan yaitu pada bagian lantainya. Masjidnya
beratap sirap , tetapi kini bagian atasnya dilapisi seng. sehingga
atap, sirap hanya bisa dilihat dart dalam masjid saja. Unsur
kekunoan lain pada masjid ini adalah pawestren dan kolam di halaman
depan . Pada serambi masjid terdapat tubuh (Bedeng), besar dengan
diameter 99 cm, panjang 146 cm. Menurut juru kunci makam tabuh ini
di buat semasa dengan masjid. Unsur asli yang lain adalah saka guru
dari kayu jati yang di sangga umpak persegi dari batu kali. Mihrap
berupa relung pada dinding barat, dan mimbar berhias ukir-ukiran
diantaranya ada yang manyerupai kala.
Gapura, Di Komplek makam im terdapat empat buah pintu gerbang: Kori
supit urang , berbentuk gapura bentar yaitu gapura yang berbentuk
seperti candi terbelah, tanpa atap dan tanpa daun pintu. ukuran
panjang 220 cm. lebar 150 cm, dan terbuat dan batu bata . Pada
bagian kaki terdapat hiasan giometris. Di sebelah menyebelah kori
supit urang ada dua padhasan, dengan lapik berhias tumpal.
Regol Sri Manganti I, berbentuk paduraksa yaitu gapura yang
mempunyai atap dan daun pintu Biasanya gapura seperti ini merupakan
gerbang untuk memasuki halaman yang dinilai sakral. Terbuat dari
batu putih,tetapi sekarang dilapisi semen.tangganya berukuran 12,70
x 3,60 m dibuat dari Pasangan bata. Daun pintu dan kayu jati dihias
dengan dua bidang besar berbentuk belah ketupat, berisi ukiran
bermotif tumbuh-tumbuhan. Di bawah ambang atas pintu ada Latiyu (ambang
atas pintu yang berundak-undak), bertingkat lima terbuat dari kayu.
Dibelakangya terdapat angka-angka jawa.
Regol Sri Manganti II, berbentuk paduraksa, akan tetapi pada gerbang
ini intensitas pola hiasanya berkurang ( lebih sedikit ), terdapat
Latiyu bertingkat tujuh dan berhias pola bunga-bungaan di bagian
tengahnya. Di balik Latiyu terdapat angka-angka Jawa.
Gapura Papak, merupakan gerbang menuju ke makam Sultan Agung yang
terletak di halaman terakhir / halaman 1V. Didekat gapura im
terdapat susunan batu yang disebut pelenggahan yang digunakan Sultan
Agung untuk memandang laut selatan.
Kelir, Yaitu sebuah bangunan pagar tembok yang berfungsi sebagal
kelir atau aling-aling pintu gerbang.Disini terdapat empat kelir
yaitu:
Kelir gapura supit urang, panjangnya 4,40m,lebar O,60m, terbuatdari
batu bata dan batu yang disusun tanpa semen
Kelir Regol Sri Manganti I, berukuran 4,3 5 x 0,40 m juga dibangun
dari dari bata tanpa semen Bagian atapnya polos, sedang bagian bawah
dialasi dengan 17 bidang berbentuk segi empat dan Segi enam.
Kelir Regol Sri Manganti II, dibuat dari bata berukuran 4 x 0,20 m,
hiasanya berupa bidang bidang berukiran pola Geometris yang
diselingi pola tumbuhan.
Kelir Gapura Papak, terdiri dari susunan batu putih berbentuk huruf
L. Kelir ini samasekali tidak berhias.
Padasan, Padasan merupakan tempat berwudlu / bersuci. Disini
terdapat 6 buah padasan yaitu, 2 buah terdapat di luar gerbang supit
urang dan 4 buah terdapat dihalaman Kamandhungan dan biasanya
disebut enceh atau Kong. Dua buah enceh yang berada di timur tangga
regol Sri Manganti 1 dinamai Kyai Mendhung dan Nyai Siyem. Kedua
enceh ini merupakan persembahan dari raja Ngerum (Turki) dan Siyem
(Thailand). Sedang yang berada, di sebelah barat tangga bernama Kyai
Danumaya dan Nyai Danumurti, berasal dari Aceh dan Palembang.
Enceh-enceh ini diisi setahun sekali pada hari Selasa Kliwon dan
Jumat Kliwon yang pertama di bulan Suro dengan upacara tradisi
khusus.
Nisan, Nisan sama artinya dengan makam . Bahan pembuat nisan di
komplek makam ini antara lain adalah batu andesit, bata, dan batu
pualam . Nisan untuk wanita biasanya bagian atasnya tumpul atau
membulat , nisan untuk pria bagian atasnya runcing. Nisan-nisan di
komplek makam ini di bagi dalam 8 (delapan) kelompok makam.
Kolam, Kolam ini terletak di halaman depan masjid , tepatnya di
depan gapura supit urang.Pengisian kolam diperoleh dari mata air.